Penyakit Was Was Menurut Perspektif Islam dan Psikologis
Blog

Penjelasan Penyakit Was Was Menurut Perspektif Islam dan Psikologis

Penjelasan Penyakit Was Was Menurut Perspektif Islam dan Psikologis – Pernahkan Anda melihat orang disekitar Anda atau bahkan Anda sendiri merasa was was ketika berwudhu? Akhirnya melakukan wudhu’ secara berulang-ulang. Seperti ada perasaan wudhu’ kita belum sempurna. Misalnya ketika membasuh wajah atau yang lainnya seperti ada perasaan airnya belum merata sempurna, sehingga harus mengulangi wudhu’nya. Dan hal itu berlangsung berkali-kali dan setiap kali berwudhu’.

Atau juga kita sering melihat orang yang sedang sholat melakukan takbirotul ihrom berkali-kali. Mereka seperti ada perasaan takbirnya kurang sempurna, sehingga harus mengulangnya secara terus menerus. Nah ini lah yang dinamakan gangguan “was was” atau penyakit was was.

Penyakit Was Was dalam Perspektif Islam

Dalam dunia islam, was was merupakan godaan syetan kepada manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam surat an-naas yang artinya :

“katakanlah aku berlindung kepada tuhannya manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia”.

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa was was itu berasal dari bisikan setan yang ditujukan kepada manusia. Oleh karena itu, was was bukanlah tindakan yang benar.

Jadi kalaupun ketika ada perasaan was was ketika kita melakukan sholat atau kegiatan yang lainnya kita diperintahkan untuk  mengabaikannya dan meminta perindungan kepada Allah. Mungkin karena itulah dari dulu saya diajari oleh orang tua saya ketika hendak sholat untuk membaca surat An Naas sebelum membaca niat sholat agar terhindar dari godaan setan.

Gangguan Was Was dalam Dunia Psikologi

Sedangkan dalam dunia psikologi, was was disebut juga sebagai OCD (Obsessive Compulsive Disorder). OCD merupakan gangguan kecemasan dimana seseorang merasa terjebak dalam pikiran-pikiran yang negatif dan terus menerus (obsesif). Serta perilaku ritual yang repetitive (kompulsi) yang ditujukan untuk mengurangi perasaan kecemasan. Para penderita obsesif-kompulsif umunya akan menyadari bahwa tindakan yang mereka lakukan merupakan tindakan yang masuk akal.

Mereka sering kali merasa tersiksa dengan ritual-ritual tersebut. Namun apabila mereka meninggalkan ritual-ritual tersebut, maka mereka akan merasakan suatu kecemasan. Nah, kecemasan ini akan hilang hanya jika mereka kembali melakukan ritual-ritual tersebut. Perlu anda ketahui bahwa beberapa bagian otak penderita gangguan obsesif kompulsif menjadi hiperaktif.

Salah satu area di lobus frontal mengirimkan pesan mengenai bahaya yang akan terjadi ke area-area lainnya yang terlibat dalam mengendalikan gerakan dari otot-otot. Serta menyiapkan tubuh untuk merasa takut dan menyiapkan tubuh untuk merespon ancaman dari luar. Pada penderita gangguan obsesif-kompulsif sinyal tanda bahaya pada otak akan tetap berlanjut dan jejaring emosional akan tetap mengirimkan pesan “takut” yang salah.

Sekarang sudah jelas mengenai apa itu was was. Memang perasaan was was sangat mengganggu sekali bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh penderita was was wudhu’ akan selalu merasa wudhu’nya kurang sempurna. Sekalipun mereka melihat sendiri anggota badan wudhu’nya sudah basah dialiri air tapi perasaan itu selalu saja muncul. Tapi perasaan seperti itu harus diabaikan, dan yang harus dilakukan adalah memantapkan diri bahwa apa yang sudah kita lakukan itu sudah benar.

Demikian mengenai penjelasan apa itu penyakit was was baik dalam Islam/ menurut Islam dan juga dari sisi psikologis. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *